Ucapan terima kasih untuk seorang anak
Seperti biasa ketika kulihat tempat sampah di dapur sudah penuh, aku menyuruh Zaky untuk membuangnya ke tong di depan rumah. Ya, itu memang tugas yang diberikan kepada Zaky sebagai salah satu kontribusinya dalam membantu pekerjaan di rumah. Pagi itu...
"Zaky, ibu minta tolong buang sampah dong, udah penuh nih", kataku.
"Iya, sebentar!!", jawabnya setengah berteriak.
Tampaknya Zaky sedikit kesal karena keasyikannya bermain game di komputer sedikit terganggu. Setelah dua kali aku menyuruhnya, barulah dia beranjak dari tempat duduknya. Dengan muka sedikit cemberut, dia mencoba mengangkat kantong sampah. Oppp....agak berat memang, tapi akhirnya dia berhasil mengangkat dan memasukkannnya ke tong sampah. Dan ketika dia kembali...
"Thank you", kataku.
Entah karena suaraku kurang jelas terdengar olehnya atau memang dia ingin menegaskan apa yang telah dikatakan oleh ibunya.
"Apa Bu, apa Bu?", tanyanya.
"Thank you, Zaky", kataku sekali lagi.
Tiba2 plok!! Tangannya memukul pantatku, tidak keras memang, mungkin lebih tepat seperti aku merasakan seseorang menepuk pundakku dengan keakraban. Kemudian dengan setengah berlari, dia bergegas duduk kembali di depan komputernya. Ada keriangan di wajahnya, aku dapat merasakannya. Tak ada lagi wajah kesal yang dia perlihatkan sebelumnya.
Ah..kalimat "terima kasih", kalimat pendek yang ternyata cukup "sakti", kalimat yang mampu merubah suasana hati seseorang menjadi lebih baik. Hampir saja aku lupa mengatakannya. Ya, seringkali kami sebagai orang tua lupa mengatakannya. Ketika kami ingin anak2 dapat menghargai kerja keras kami untuk mereka, justru kami sering terlupa menghargai kerja mereka. Bagaimana anak2 akan terbiasa mengucapkan terima kasih kalau kami tidak terbiasa mengucapkan kata itu kepada mereka? Bagaimana mereka akan menghargai kerja kami kalau kami pun tidak dapat menghargai kerja mereka?
Ya, sekecil apapun pekerjaan seorang anak, dia layak mendapatkan penghargaan. Sehingga suatu saat, diapun dapat menghargai pekerjaan orang lain, sekecil apapun juga.
"Zaky, ibu minta tolong buang sampah dong, udah penuh nih", kataku.
"Iya, sebentar!!", jawabnya setengah berteriak.
Tampaknya Zaky sedikit kesal karena keasyikannya bermain game di komputer sedikit terganggu. Setelah dua kali aku menyuruhnya, barulah dia beranjak dari tempat duduknya. Dengan muka sedikit cemberut, dia mencoba mengangkat kantong sampah. Oppp....agak berat memang, tapi akhirnya dia berhasil mengangkat dan memasukkannnya ke tong sampah. Dan ketika dia kembali...
"Thank you", kataku.
Entah karena suaraku kurang jelas terdengar olehnya atau memang dia ingin menegaskan apa yang telah dikatakan oleh ibunya.
"Apa Bu, apa Bu?", tanyanya.
"Thank you, Zaky", kataku sekali lagi.
Tiba2 plok!! Tangannya memukul pantatku, tidak keras memang, mungkin lebih tepat seperti aku merasakan seseorang menepuk pundakku dengan keakraban. Kemudian dengan setengah berlari, dia bergegas duduk kembali di depan komputernya. Ada keriangan di wajahnya, aku dapat merasakannya. Tak ada lagi wajah kesal yang dia perlihatkan sebelumnya.
Ah..kalimat "terima kasih", kalimat pendek yang ternyata cukup "sakti", kalimat yang mampu merubah suasana hati seseorang menjadi lebih baik. Hampir saja aku lupa mengatakannya. Ya, seringkali kami sebagai orang tua lupa mengatakannya. Ketika kami ingin anak2 dapat menghargai kerja keras kami untuk mereka, justru kami sering terlupa menghargai kerja mereka. Bagaimana anak2 akan terbiasa mengucapkan terima kasih kalau kami tidak terbiasa mengucapkan kata itu kepada mereka? Bagaimana mereka akan menghargai kerja kami kalau kami pun tidak dapat menghargai kerja mereka?
Ya, sekecil apapun pekerjaan seorang anak, dia layak mendapatkan penghargaan. Sehingga suatu saat, diapun dapat menghargai pekerjaan orang lain, sekecil apapun juga.


1 Comments:
Enjoyed a lot! »
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home