Road to Oman
Tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai di perbatasan Saudi Arab, salah satu border yang harus kami lewati untuk bisa sampai ke Oman. Perbatasan Qatar dan Saudi Arab hanya berjarak kurang lebih 90km, bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Namanya negara di padang pasir, jadi tak aneh kalau perjalanan kami melewati negara ini senantiasa ditemani oleh hamparan padang pasir di kanan kiri. Jalan yang mulus, lurus…panjang…seperti tak berujung, ditambah lagi dengan sinar matahari yang cukup terik membuat sang pengemudi harus benar-benar focus.
Ah..seandainya di pinggir jalan ada yang jual es cendol atau es kelapa muda, hmmm….glek!
Kami sempat berhenti sejenak di Batha, untuk isi bensin sekalian menikmati makan siang dengan rendangnya Vony, sambal teri dan sambel tumpangnya kak Fat, plus goreng tahu, menu yang sederhana tapi nikmatnya tiada terkira…makan dengan tangan pada saat perut benar-benar terasa sudah keroncongan. Ya, pantas saja karena pada saat itu waktu sudah menunjuk ke arah 2 pm.
Sore hari sekitar jam 3 pm, kami mulai memasuki wilayah UAE dengan suasana yang cukup berbeda. Di kanan kiri tumbuh bunga bogenvile: dengan warnanya yang putih, purple, diselingi oleh pohon kurma yang menghijau, bahkan kadang hamparan rumput walau hanya beberapa jengkal…menyembunyikan padang pasir yang ada di baliknya. Pemandangan yang cukup menyengarkan mata setelah berjam-jam disilaukan oleh sinar matahari yang dipantulbalikkan oleh padang pasir.
Menjelang malam hari, kami tiba di Abu Dhabi. Sinar gemerlap lampu-lampu hias di pinggiran jalan bagaikan kata sambutan selamat datang, barisan pepohonan yang menghijau serta warna warni bunga musim dingin terlihat jelas. Ah…cantiknya!

Keinginan untuk bertemu teman lama akhirnya terkabul. Pada malam itu, kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah keluarga mas Bambang. Kebetulan pas lagi komplit ada mbak Ester dan Bamby, satu2nya jagoan mereka berdua. Malah bukan hanya komplit tapi spesial ternyata. Kenapa...? Karena ada Retno dan mbak Nurul, yang ntah sengaja diundang mbak Ester untuk menyambut kami (geer..ngerasa jadi tamu agung aja he he) atau emang pas lagi pada main di situ kali. Tak terbayangkan sebelumnya kalau kami yang sebelumnya pernah tinggal bersama di Kalimantan dapat bertemu kembali setelah masing-masing pindah ke negara yang berbeda.
Kecantikan Abu Dhabi bisa kami nikmati sepuasnya pada keesokan harinya. Berjalan-jalan menyusuri corniche, dilanjutkan dengan berkeliling kota. Decak kagum sempat terlontar ketika melewati Palace. Dari luar terlihat bangunan istana berwarna merah bata, yang tidak hanya besar tetapi menampilkan suatu keindahan, kekokohan yang menyatu dengan sentuhan seni. Dikelilingi oleh hamparan rumput dan bunga berwarna- warni disana-sini. Sayang, karena kami hanya sempat mengambil gambar Palace dari dalam mobil, itupun sembari lewat, (takut juga mo masuk, musti pake protokoler kayaknya) sehingga tak ada image tentang keindahan bangunan yang satu ini.

Kota yang modern, bersih, teratur, ramah lingkungan, itulah kesan kami tentang Abu Dhabi.
Perjalanan selanjutnya, Abu Dhabi - Dubai kami tempuh selama kurang lebih 1,5 jam. Terkaget-kaget rasanya ketika kami memasuki Dubai. Kota yang cukup besar, cantik, metropolitan, modern, berkesan “wah” karena dimana-mana bertebaran supermall yang menyajikan merk-merk ternama, namun sedikit crowded serta susah parkir.
Supermall yang pertama kami kunjungi adalah Emirate Mall. Adanya “ice sky park” lah yang membuat kami tertarik untuk mendatangi tempat ini. Karena baru pertama kali merasakan suasana bersalju, Asti dan Zaky sangat menikmati keberadaan di tempat ini. Lempar-lemparan snow ball, main perosotan…nah yang satu ini ibu dan bapaknya juga gak mau ketinggalan. Kapan lagi…

Ibnu Battuta Mall dengan slogan ” a world under one roof” menyajikan arsitektur bangunan dari berbagai negara seperti India, Cina, Mesir, Tunisia, Maroko dan masih banyak lagi. Cukup menarik untuk dinikmati… Supermall yang satu ini kelihatannya betul-betul ingin memanjakan pengunjung dengan mencoba menghadirkan suasana berbelanja, diselingi dengan kehadiran cafe dan restaurant seperti di negara asalnya. Rasanya tepat kalau orang mengatakan Dubai adalah salah satu surga bagi shopper maniac.

Ada satu hotel yang terkenal ratenya termahal di dunia, namanya Burj al Arab. Bentuk bangunannya lain daripada yang lain, unik, futuristik, dibingkai oleh keindahan pantai Jumeira. Menurut informasi, di level paling atas selain ada helipad, juga ada lapangan tenis.
"Wuih...terus kalo bolanya jatuh kebawah..? Capek banget musti turun naik buat ngambil.."(garuk2 kepala...).
Ada lagi yang namanya Madinat souq. Tempat ini mematahkan opini saya tentang souq yang biasa saya kunjungi. Hamparan taman di depan pintu gerbang menyatu indah dengan bangunan yang berbentuk menyerupai castle. Ketika masuk parking car, tersebar mobil-mobil dengan merk ternama seperti porche, mercy, bmw…sayang kami tak bisa melanjutkan cerita selanjutnya karena kebetulan Zaky tertidur lelap sehingga kami memutuskan untuk exit. Kira-kira souq seperti apa ya yang ada di dalam bangunan ini….?
Sharjah, tempat kami menginap berjarak sekitar 30 km dari Dubai. Pilihan yang harus kami ambil karena kami tidak menemukan hotel di Dubai dengan rate yang sesuai dengan dompet kami. Kotanya kecil namun kelihatannya cukup hidup perekonomiannya, disana-sini terlihat pembangunan. Dari plat nomor mobil bertanda Dubai yang banyak berseliweran di kota ini, tampaknya ini adalah kota alternatif untuk tempat tinggal bagi sebagian orang-orang yang bekerja di Dubai. Kami sempat menyusuri cornichenya, cukup indah dan bersih. Kemudian mencoba hunting handcraft di centrel souq: souq yang terletak di dalam sebuah bangunan yang bagian luarnya didominasi warna putih dan biru, bagian dalamnya cukup bersih dan teratur, berada di tepi pantai.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam dari Dubai, akhirnya tibalah kami di perbatasan Oman. Tampaknya matahari mulai berangkat ke peraduannya, sehingga kami memutuskan untuk menginap di kota kecil Sohar.
Kota tujuan selanjutnya adalah Muscat, capital of Oman, yang berjarak kurang lebih 300 km dari Sohar. Hampir sepanjang perjalanan kami dikawal oleh gunung-gunung batu di kanan kiri, ke “exotic”an alam yang dihadirkan Allah Sang Pencipta. Entah kenapa rasanya aku sudah mulai falling in love dengan negara ini….Muscat, seperti Abu Dhabi dan Dubai, adalah kota modern, namun ada aura lain yang membuatnya berbeda.
Al Bustan Palace, tempat pertama yang kami kunjungi adalah sebuah hotel terkenal. Disambut oleh barisan rapih pepohonan dan hamparan padang rumput yang menghijau membuat kami terlupa bahwa kami sedang berada di negara padang pasir (saking hijaunya jadi teringat Lembang in my hometown Bandung, hmmm....). Bangunannya tampil dengan ciri kubah yang berwarna hijau.
Mesjid Al Qaboos, ah...luar biasa! C'est magnifique!! Halamannya luas sekali dengan beralaskan hijaunya rerumputan dan hiasan bunga dimana2, dihiasi oleh gemericiknya air. Berada didalamnya rasanya seperti sedang berada di dalam istana yang megah, indah, cantik, penuh kedamaian. Betah deh berada di tempat ini! Pada pagi hari tempat ini terbuka sebagai tujuan wisata bagi muslim dan juga non muslim.
Tempat lain yang sangat layak untuk dikunjungi adalah Dive Oman Centre. Pemandangan lautnya mempersona, tapi yang membuat kami terkesan adalah “cave ” nya yang berada sedikit di tengah laut. Untuk mencapainya kita bisa menyewa perahu boat. Di sekitar cave, perairan relatif dangkal dengan air laut yang jernih sehingga kita bisa melihat ikan-ikan yang berenang berseliweran. Burung camar berterbangan di atas kepala kami. Indahnya….Ketika perahu kami melaju sedikit cepat, kucoba membentangkan tanganku (ala film titanic, tapi gak pake berdiri tentunya, takut kecebur!), deru angin bercampur dengan cipratan air laut terasa di wajahku. Benar-benar kunikmati suasana alam seperti ini.
Ah..belum puas rasanya menggambarkan pesona alam ini.
Di salah satu bagian corniche yang terletak daerah muscat, kami menjumpai 3 buah “fort” yang letaknya tidak berjauhan. Benteng-benteng tersebut kelihatan berdiri begitu kokoh dan anggun di pinggiran pantai, bangunannya berwarna natural tanah sangat kontras dengan birunya laut, konon dibangun beratus tahun yang silam sebagai benteng pertahanan. Pengunjung tidak diperbolehkan masuk karena benteng-benteng tersebut kelihatannya masih dipergunakan sebagaimana fungsinya.
Souq selalu menjadi tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi, selain sebagai tempat “hunting” handcraft, tetapi juga karena sudah menjadi ciri dari negara-negara padang pasir. Souq Mutrah terletak di depan corniche, dilihat sekilas biasa saja, tetapi bila kita masuk ke dalamnya, kemudian melihat plafond serta lampu-lampu yang bergantungan: sangat unik dan antik dengan hiasan batu-batu alam berwarna hijau, merah, biru, tampaknya souq ini merupakan salah satu saksi bisu old muscat.

Menyusuri corniche di daerah Al Kharijiyah, tak kalah menariknya. Pantainya bersih dengan fasilitas picnic area dimana kita bisa berbasah-basah bermain air laut atau sekedar duduk menikmati hembusan angin pantai dan lambaian pohon kelapa. Buat pecinta a cup of cappucino ada Starbucks di sekitar sini. Memandang laut lepas lewat kaca jendela, sambil menyeruput a cup of hot coffe ditemani kelembutan tiramisu atau strawbery chesse cake, duh nikmat...nikmat!
Salah satu ciri lain negara Oman adalah wadi (sumber mata air). Begitu banyak wadi ditemukan disini, walaupun tidak semuanya berair. Biasanya wadi dinamai sesuai dengan penemunya. Salah satunya adalah Wadi Bani Khalid yang terletak km 103 menuju kota Sur. Keistimewaan wadi ini adalah senantiasa berair setiap waktu. Begitu girangnya kami menemukan tempat ini!! Pengen jingkrak2 rasanya! Setelah ribuan km perjalanan di bawah terik matahari (walaupun sudah masuk musim dingin tetep aja matahari mah terik) akhirnya kami menemukan tempat yang “adem”, cesss… rasanya seperti diguyur air sejuk di tengah padang pasir. Ah..tak terbayangkan bahagianya para musafir yang jaman dulu berpergian dengan onta, di bawah sinar matahari yang begitu menyengat, menahan rasa haus…kemudian menemukan tempat ini. Selain wadi, ada juga cave nya, namanya Mukal cave. Namun sayang, karena jalan untuk mencapainya berbatu, cukup sulit untuk dilalui, maka hanya suamiku, dengan ditemani penduduk setempat yang pergi untuk melihatnya.
Di penghujung sore, kami tiba di kota Sur. Ada kegitan wisata di daerah ini yang hanya dapat dilakukan pada tengah malam yaitu mendatangi daerah Al Jinn, tempat penyu bertelur. Pada saat musimnya yaitu sekitar bulan juni- juli beratus-ratus penyu mendatangi pantai ini untuk menyimpan telurnya. Sayang karena termasuk daerah konservasi, para pengunjung dilarang keras menggunakan camera.
Mengelilingi kota Sur, kemudian dilanjutkan ke kota Ibra, sepertinya kita sedang menyusuri kota yang tidak memiliki kehidupan. Padang pasir, gersang, sepi, banyak bangunan-bangunan tua yang sebagian sudah banyak ditinggalkan pemiliknya. Secara fisik tak ada yang menarik untuk dilihat, namun bagi para petualang justru disinilah start point untuk melakukan off road desert. Pantas saja, bolak balik kami berpapasan dengan mobil-mobil 4 wheel drive dari beberapa travel wisata.
Berlanjut ke Bahla, kota kecil tempat persinggahan kami. Setelah beristirahat semalam, besok paginya, sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan untuk menikmati corniche nya.
Antara Bahla dan Nizwa (kota tujuan kami selanjutnya), kami menemukan suatu perkampungan tua yang berada di kedalaman, yang kanan kirinya berpagarkan gunung berbatu yang sangat kokoh. Karena berada di “ceruk”, terlindung dari teriknya sinar matahari, udara disini terasa lebih dingin. Tiba-tiba saja aura masa lampau menghampiri kami,ah.. mungkin pada jaman Jurassik, tempat ini adalah aliran sungai yang cukup besar. Dan nun di atas gunung batu sana ada beberapa rumah tua, rumah yang dibangun dari bebatuan yang ditumpuk. Sudah tak berpenghuni….
Perjalanan dilanjutkan ke arah Jabal Sham, tempat tertinggi di Oman. Jalannya sedikit curam, diwarnai oleh gunung berbatu dan lembah yang cukup dalam.
Nizwa, kota dengan monumen berbentuk setumpuk buku. Konon jaman dulu kota ini terkenal dengan hasil karya sastranya. Di kota ini kami kembali menyempatkan diri untuk melihat-lihat souq yang tempatnya cukup unik karena berada di dalam fort. Semakin masuk kedalam, jalan mobil semakin kecil, pas bahkan kadang mepet untuk dilalui oleh 2 mobil. Sungguh di luar dugaan, setelah melalui jalan yang sempit dan berkelok, yang cukup membuat sang driver sedikit bingung, ternyata bukan hanya souq yang dapat kita temukan didalamnya, tetapi juga sebuah perkampungan.
Tak terasa, ternyata Nizwa merupakan kota persinggahan kami yang terakhir. Rasa sedih terselip di hati kami, berakhir sudah petualangan kami di Oman. Pemandangan alam yang begitu mempersona dengan gunung berbatu, pantai, cave serta wadinya, menyatu dengan bangunan-bangunan lama yang tetap dipertahankan keberadaanya, sehati dengan bangunan-bangunan modern yang tampil dengan sentuhan seni yang tinggi, semuanya terpatri dalam kenangan.
Dalam arah perjalanan pulang, kami sempat menemukan sand dune yang cukup cantik, yang rasanya sayang bila tidak dinikmati. Hop..bruk, hop...bruk, bolak balik Zaky jatuh bangun ketika mencoba untuk mencapai puncak. Ketika pada akhirnya sampai puncak, horeee...!!! Tak lama kemudian buzzzz...meluncur dari ketinggian.
Kami kembali menuju UAE dan singgah di Al Ain untuk bermalam. Menyusuri pinggiran kota Abu Dhabi, menuju Tarif kemudian Sila. Ada peristiwa yang sempat membuat kami panik, sesampainya di Sila bensin sudah menunjukkan angka O, lampu warning pun sudah menyala. Untunglah ada satu-satunya pom bensin di kota ini yang menjadi penyelamat kami. Tak terbayangkan kalau mobil kami sampai kehabisan bensin, di jalan yang kanan kirinya hanya padang pasir, di bawah sinar matahari yang sama sekali tidak bersahabat. Alhamdulillah, akhirnya kami dapat melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan lancar. Tiba di Al Khor, WELCOME HOME!














































0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home