Cerita di balik pulsa telfon murah meriah
Ketika suamiku mulai utak atik mencobanya, aku masih tetap berpikiran," Ah sengirit2nya, paling juga berapa persen, gak akan jauh dari rate pulsa standar!". Tapi beneran kaget deh, ternyata rate pulsa menggunakan kartu ini hanya 1/10 nya dari rate standar! Bayangkan untuk pembicaraan ke Indonesia selama 9 menit hanya menghabiskan $1 !!! Horeee..., gimana aku gak jingkrak2!!
Maka mulailah aku mengabsen teman2ku ada di tanah air untuk kuhubungi. Terus terang aja, sejak kita pindah ke Qatar, hubunganku dengan beberapa teman terputus. Tidak semua no. hp indonesia bisa tersambung, ditambah lagi kebanyakan dari teman2 tidak memiliki akses internet.
Percobaan pertama, kutelfon ibuku di Bandung. Komentarnya.....?
"Teh, naha sorana gegerebegan jiga ditiup angin?"
Translate: "Teh (panggilan untuk anak tertua), kenapa suaranya grebek2 kayak ditiup angin?", kata mamahku.
"Maklum Mah, harganya 1/10 nya harga biasa nih...", jawabku
Kedua, suamiku telfon ibunya di Jakarta.
"Kenapa sekarang suaranya kok mantul2?", tanya ibu mertuaku.
"Oh..itu namanya echo, bla bla bla..", suamiku mencoba menjelaskan.
Ketiga, aku telfon 3 temanku yang ada di Bontang Kalimantan: Avi, Eneng dan Dice. Inilah komentar mereka:
Avi:"Ya ampun, ini Herti Aston khan, bener khan? Ini Herti temenku, ini Herti beneran?"
Hmmm..tampaknya temanku gak percaya kalau aku yang telfon, padahal sudah berulang kali kubilang IYA, IYA, IYA!!!
Eneng, dengan gayanya yang sunda banget: "Eh..si Herti nya? Kamana wae, cageur? Kadieu atuh mawa oleh2 nu aneh!!""
Translate: "Eh....ini Herti ya? Kemana aja, baik2 khan? Kesini dong bawa oleh2 yang aneh!!
Kujawab sambil cekikikan," Ya ntar kubawain mas arab ma onta!"
Dice, dengan logat jawa timurnya yang kentel: " Ya ampun Mbak Herti.., aduh sekarang udah kaya ya, kok bisa telfon ke Indonesia?!".
Aku kembali terkikik mendengar komentarnya dan kujawab," Iya sekarang suamiku jadi bandar minyak, tiap hari ngider keliling komplek!"
Tapi diantara komentar itu, yang paling menggelitik adalah komentar temanku yang sama2 tinggal disini. Sebelumnya fyi, pake kartu telfon ini, kita musti sabar, ngomongnya harus gantian. Kalau dua2nya ngomong, ya yang kedengaran cuman suara sahut2an aja, kayak di gua (echo).
Suatu hari dia menelfon ibunya...
Kata ibunya," Kunaon mani rame kitu, loba barudak nya?"
Translate: "Kenapa ramai sekali, banyak anak2 ya?"
"Nggak Mak, ini bicaranya harus gantian, bla..bla..bla..", temanku mencoba menjelaskan kepada ibunya.
Tetapi setiap kali temanku mau mencoba berbicara, ibunya sudah memotong duluan. Akhirnya temanku mengalah, membiarkan ibunya bercerita terus. Tetapi...
"Ongkoh nelepon, tapi naha Emak ngomong, kalahka cicing wae, Nyai?", kata ibunya terheran2.
Translate: "Katanya nelfon, tapi kenapa Emak cerita, kok diam terus Nak?"
Temanku tak bisa berkata2, ujung2nya balik lagi ke telfon biasa.
Itulah sedikit cerita tentang telfon yang murah meriah. Rasa2nya buat telfon orang tua, selama kita mampu, kita tidak perlu terlalu memikirkan rate pulsa. Kerinduan kita kepada beliau, dan kerinduan beliau kepada kita, adalah segalanya.
Buat teman2ku di Indonesia, maklum aja kalau kadang suranya "gegerebegan", kayak bendera tertiup angin. Toh biasanya, ini terjadi pada saat sambungan awal aja, untuk selanjutnya lumayan lah...Yang penting kita bisa tetap keep in touch!





