HertiArc's Days

Tentang hari2 yang telah dilalui, dalam kesendirian juga dalam kebersamaan. Hari-hari yang kuinginkan dapat diambil manfaatnya agar aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik.

My Photo
Name:
Location: Qatar

cool housewife who wants to be an "oasis" of her familly

Kitchen's Moments

Our Food

Our Snacks

Our Beverages

Saturday, March 25, 2006

Cerita di balik pulsa telfon murah meriah

Entah kenapa, setelah hampir 1 tahun menetap di Qatar, kita baru ngeh untuk mencoba menggunakan kartu telfon yang bisa diakses ke internet. Padahal informasi mengenai kartu telfon ini sudah didapat jauh sebelumnya. Lumayan bisa ngirit duit bulanan, begitu kata teman2ku.

Ketika suamiku mulai utak atik mencobanya, aku masih tetap berpikiran," Ah sengirit2nya, paling juga berapa persen, gak akan jauh dari rate pulsa standar!". Tapi beneran kaget deh, ternyata rate pulsa menggunakan kartu ini hanya 1/10 nya dari rate standar! Bayangkan untuk pembicaraan ke Indonesia selama 9 menit hanya menghabiskan $1 !!! Horeee..., gimana aku gak jingkrak2!!

Maka mulailah aku mengabsen teman2ku ada di tanah air untuk kuhubungi. Terus terang aja, sejak kita pindah ke Qatar, hubunganku dengan beberapa teman terputus. Tidak semua no. hp indonesia bisa tersambung, ditambah lagi kebanyakan dari teman2 tidak memiliki akses internet.

Percobaan pertama, kutelfon ibuku di Bandung. Komentarnya.....?

"Teh, naha sorana gegerebegan jiga ditiup angin?"
Translate: "Teh (panggilan untuk anak tertua), kenapa suaranya grebek2 kayak ditiup angin?", kata mamahku.

"Maklum Mah, harganya 1/10 nya harga biasa nih...", jawabku

Kedua, suamiku telfon ibunya di Jakarta.

"Kenapa sekarang suaranya kok mantul2?", tanya ibu mertuaku.
"Oh..itu namanya echo, bla bla bla..", suamiku mencoba menjelaskan.

Ketiga, aku telfon 3 temanku yang ada di Bontang Kalimantan: Avi, Eneng dan Dice. Inilah komentar mereka:

Avi:"Ya ampun, ini Herti Aston khan, bener khan? Ini Herti temenku, ini Herti beneran?"

Hmmm..tampaknya temanku gak percaya kalau aku yang telfon, padahal sudah berulang kali kubilang IYA, IYA, IYA!!!

Eneng, dengan gayanya yang sunda banget: "Eh..si Herti nya? Kamana wae, cageur? Kadieu atuh mawa oleh2 nu aneh!!""
Translate: "Eh....ini Herti ya? Kemana aja, baik2 khan? Kesini dong bawa oleh2 yang aneh!!

Kujawab sambil cekikikan," Ya ntar kubawain mas arab ma onta!"

Dice, dengan logat jawa timurnya yang kentel: " Ya ampun Mbak Herti.., aduh sekarang udah kaya ya, kok bisa telfon ke Indonesia?!".

Aku kembali terkikik mendengar komentarnya dan kujawab," Iya sekarang suamiku jadi bandar minyak, tiap hari ngider keliling komplek!"

Tapi diantara komentar itu, yang paling menggelitik adalah komentar temanku yang sama2 tinggal disini. Sebelumnya fyi, pake kartu telfon ini, kita musti sabar, ngomongnya harus gantian. Kalau dua2nya ngomong, ya yang kedengaran cuman suara sahut2an aja, kayak di gua (echo).

Suatu hari dia menelfon ibunya...

Kata ibunya," Kunaon mani rame kitu, loba barudak nya?"
Translate: "Kenapa ramai sekali, banyak anak2 ya?"

"Nggak Mak, ini bicaranya harus gantian, bla..bla..bla..", temanku mencoba menjelaskan kepada ibunya.

Tetapi setiap kali temanku mau mencoba berbicara, ibunya sudah memotong duluan. Akhirnya temanku mengalah, membiarkan ibunya bercerita terus. Tetapi...

"Ongkoh nelepon, tapi naha Emak ngomong, kalahka cicing wae, Nyai?", kata ibunya terheran2.
Translate: "Katanya nelfon, tapi kenapa Emak cerita, kok diam terus Nak?"

Temanku tak bisa berkata2, ujung2nya balik lagi ke telfon biasa.

Itulah sedikit cerita tentang telfon yang murah meriah. Rasa2nya buat telfon orang tua, selama kita mampu, kita tidak perlu terlalu memikirkan rate pulsa. Kerinduan kita kepada beliau, dan kerinduan beliau kepada kita, adalah segalanya.

Buat teman2ku di Indonesia, maklum aja kalau kadang suranya "gegerebegan", kayak bendera tertiup angin. Toh biasanya, ini terjadi pada saat sambungan awal aja, untuk selanjutnya lumayan lah...Yang penting kita bisa tetap keep in touch!

Sunday, March 19, 2006

Mimpi Indah....hah hah..!

Beberes rumah?Udah...Masak?Udah...sedapur2nya dah kuberesin. Shalat dzuhur?Udah juga...Sembari nunggu anak2 pulang,mimpi aja dulu deh.

Nah, berhubung umurku udah banyak, aku pengennya mimpi yang serius dulu ah. Bener2 ini mimpi aku nih:

1. Kepengen bisa shalat yang bener2 shalat. Pas teng adzan, langsung shalat gak pake ntar ntar... Trus pas shalat gak kepikiran macem2, gak nyelip mikir makanan yang mau dimasak, atau nyelip mikir hp yang lupa kusimpan dimana. Dah ah, 2 point aja dulu, itu aja dah susah!

2. Kepengan jadi ibu yang kesabarannya seluas samudra (duh...gede banget ya, padahal segayung aja belom ada). Tapi bener deh kepengen ganti setting dari mulut yang suka ngomel ke mulut yang penuh dengan kata2 manis, menyejukkan...

3. Jadi istri yang soleh!

Yang seriusnya cukup 3 aja dulu deh..Sekarang mimpi2an nih:

1. Kepengen punya sayap! Biar kalau bosen, suntuk..bisa pergi kemana aja! Gak perlu pake ngurus2 visa, paspor.

2. Kepengen punya kelebihan kayak Jeanny! Pas lagi kepengen makan lotek tinggal tangan taro di depan dada, trus Ting* (sambil ngangguk kepala) dan tarara...lotek dah di depan mata. Setrikaan numpuk, Ting*..tiba2 dah tersusun rapih di lemari.

Begitulah mimpi indahku....

Saturday, February 25, 2006

Me too....about computer.

Tergelitik dengan commentnya Rhien dan Yuli ttg addicted by computer's game, sebenarnya aku juga pernah merasa jadi malu sendiri. Gimana gak malu, 2 hari setelah memberikan ultimatum TIDAK kepada Zaky, malah aku sendiri yang asyik kutak ketik di multiply sampai larut malam. Sampai suatu saat suamiku nyeletuk," wah ibu juga mesti kena peraturan nih.." Santai sekali bicaranya, tapi rasanya langsung "teg" kena ke ulu hati. Eh..eh...iya ya...

Buatku sendiri, computer memang sudah seperti "sahabat", tempat dimana aku bisa sejenak beristirahat dari pekerjaan rumah, tempat aku mencari informasi, tempat aku mencari teman....Tapi ya itu jeleknya, suka bikin lupa waktu "kalau sudah duduk di depan computer, lupa berdiri..". Apalagi kalau sudah berjalan2 ke sitenya orang lain yang kelihatannya bagus dan menarik. Trus jadi kepengen bikin, dan kalau belum berhasil, penasaran..coba, coba lagi...tahu2 sudah larut malam. Padahal sebenarnya ada pekerjaan lain yang lebih penting yang harus kukerjakan. Begitulah....

Akhirnya jadi sadar....'Dah ah mau masak dulu!

Monday, February 20, 2006

Addicted by computer's game

Lima belas menit sebelum menyiapkan makan siang anak2, kunikmati sejenak untuk duduk di depan computer. Kupandang computer milik Zaky yang kutempatkan di salah satu sudut ruang makan. Berhari, berminggu, berbulan....biasanya setelah pulang sekolah, seperti tertarik oleh suatu magnet yang maha kuat, Zaky langsung duduk di situ. Setiap kali kutawarkan makan siang, dia mengambilnya cepat2 dan kembali duduk disitu. Kulihat tangannya memasukkan makanan ke mulutnya, sedangkan matanya tetap terpaku pada layar computer. Entah dia dapat menikmati makanannya atau tidak, yang pasti dia sangat menikmati gamenya. Setelah itu, aku harus mengingatkannya untuk menyimpan piring dan gelas bekas makannya ke dapur. Setelah itu aku mengingatkannya untuk sembahyang dzuhur, yang seringkali dijawabnya," sebentar lagi Bu, sebentar lagi..." Setelah itu, setelah itu..ya bolak balik aku harus mengingatkannya untuk mengerjakan yang lainnya. Semua pada akhirnya memang dia kerjakan, tetapi seringkali dengan terburu2, wajah cemberut dan melalui perdebatan yang cukup sengit denganku. Aku dapat merasakan betul, apa yang ada dipikirannya adalah game..game..dan game.

Sampai suatu pagi, sebelum sekolah, ketika Zaky masih asyik dengan computernya, suamiku mengambil journal booknya yang setiap minggu harus ditandatangani. Melalui buku itulah, kami tahu bahwa Zaky mempunyai homework untuk membuat comment dari story book yang telah dibacanya. Dan itu belum dikerjakannya!!!
Sejak saat itulah kami berdua seperti tersadar bahwa Zaky sudah benar2 "dirasuki computer's game". Sesuatu yang salah! Sesuatu yang tak boleh berlangsung lebih lama lagi!

Pada saat itu juga suamiku mengambil keputusan tegas TAK ADA LAGI COMPUTER DI HARI SEKOLAH. Seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang sangat sangat dicintainya, Zaky berusaha mempertahankan computernya dengan 1001 alasan, tentu saja sambil berteriak2 dan menangis. Terenyuh aku melihatnya, karena kami tahu betul disitulah dia merasakan "enjoy", disitulah dia bisa melepaskan perasaan stressnya ketika dia harus melewati masa adaptasi di awal sekolahnya. Tetapi rasanya melepaskannya dari ketergantungannya terhadap computer merupakan jalan terbaik yang harus kami ambil saat ini.

Sambil menangis, Zaky berbaring di atas kursi. Sudah menjadi peraturan tak tertulis diantara aku dan suamiku, bahwa bila salah seorang diantara kami sedang "marah" maka yang lainnya harus menjadi "penyejuk hati". Kuangkat kaki Zaky ke pangkuanku sambil kupijat2, kutahan emosi yang sebenarnya ikut berapi2 juga. Kucoba menerangkan kepadanya bahwa ibu dan bapak sangat sayang kepadanya, kami ingin Zaky punya kegiatan yang bisa membuat Zaky menjadi anak pintar dan sholeh. Dia terdiam....kuharap dia mengerti apa yang kukatakan kepadanya.

Hari pertama, hari kedua...masih harus dilewati dengan perdebatan yang cukup sengit, ketika Zaky masih memohon2 untuk bermain game. Tapi kami sudah tegas TIDAK.

Ini adalah hari ketiga, sedikit demi sedikit, Alhamdulillah kami merasakan suatu perubahan yang menggembirakan pada diri Zaky. Kini kami tak perlu lagi berdebat ketika menyuruhnya untuk makan, shalat, belajar...Sepertinya sekarang dilakukannya dengan senang hati, ya walaupun kadang ada juga cemberut2nya, namanya juga anak2. Tapi aku merasakan betul segala sesuatunya menjadi lebih mudah, lebih menyenangkan.

Hari ini, Zaky pulang terlambat, jam 2.30 baru sampai dirumah karena harus mengikuti computer activity setelah sekolah selesai. Agak kasihan juga ketika aku mengajaknya untuk bersiap2 ke pengajian di sore harinya. Ketika kutawarkan kepadanya, dia menjawab,"sekarang ya Bu perginya", sambil masuk ke kamarnya untuk berganti baju. Alhamdulillah....

Besok, Zaky akan mengikuti seleksi untuk menjadi anggota dari team basket ball.

Dalam setiap doaku, aku senantiasa berharap anak2ku akan menemukan kegiatan2 yang bermanfaat, kegiatan yang dapat menjadikan mereka menjadi anak2 "penyejuk hati". Amin



Saturday, February 11, 2006

Ketika kejenuhan menghampiri

Masih lengket dalam ingatan ketika saya sedang melewati proses adaptasi awal tinggal di negara ini, kejenuhan seringkali datang menghampiri. Pada saat itu, rasanya saya hanya bergulung2 dengan pekerjaan rumah yang tak pernah selesai! Tak banyak kegiatan yang kulakukan diluar rumah, kecuali sesekali ngobrol dengan teman2, berolah raga atau menghadiri arisan ibu2 indonesia. Hmm...kelihatannya saya harus punya kegiatan lain untuk mengeluarkan saya dari kejenuhan ini.

Beberapa bulan kemudian, ketika teman semakin bertambah...
Saya diikut sertakan dalam kepengurusan arisan, Kedudukan yang menuntut saya untuk aktif dalam kegiatan sosial, seperti kunjungan untuk orang sakit, melahirkan, meninggal, menemukan ide untuk progam acara arisan, menghubungi ustadz yang akan mengisi acara pengajian bulanan. Begitulah...cukup menyenangkan, membuat saya, setahap demi setahap, lebih mengenal lingkungan disekitar saya.
Sungguh suatu hal yang sangat saya syukuri ketika kemudian saya dapat mengikuti progam pengajian Umi di Al Arqam, tempat yang memang disediakan community sebagai Islamic Study Center. Kegitan ini insya Allah, mudah2an dapat memenuhi kebutuhan rohani saya.
Satu lagi, kini saya sedang mencoba belajar membuat tulisan yang dikemas dalam bentuk blog. Tulisan yang tentu saja sangat sangat sederhana, namun Alhamdulillah cukup memberikan manfaat bagi saya.

Satu persatu kegiatan masuk dalam list schedule saya. Satu persatu saya coba jalani, nikmati...Tapi suatu saat, kejenuhan itu tetap saja muncul, ditambah lagi ketika anak2 membuat "ulah". Duh...rasanya, kalau bisa berasap, mungkin sudah berasap nih kepala, saking panasnya..

Tapi Alhamdulillah, ketika saya merasa jenuh, ya..saat saya mulai uring2an, mulai malas melakukan pekerjaan rumah tangga, mulai melakukan sesuatu dengan keterpaksaan, pokoknya saat saya benar2 tidak merasa nyaman dengan segala sesuatu, saya menyadari betul bahwa saya memang sedang dalam kondisi jenuh. Bukankah banyak orang yang justru tidak mengenal dirinya sendiri, kemudian terjerumus melakukan hal2 di luar kontrol?

Buat saya sendiri, rasa jenuh itu datang ketika saya merasa terperangkap dalam pekerjaan rumah yang sudah merupakan rutinitas. Di saat seperti inilah saya dituntut untuk kreatif menemukan sesuatu yang dapat mengeluarkan saya dari rutinitas, sekaligus dapat membuat saya merasa bergairah untuk kembali memasuki rutinitas. Bingung kan jadinya....?

Berjalan2 ke Doha bersama keluarga, sekedar untuk belanja mingguan atau makan di luar, selama ini sudah cukup membuat saya "recharged". Kadang menyusuri souq berdua bersama suami (anak2 tak pernah mau diajak ke tempat ini), siapa tahu menemukan sesuatu yang menarik, yang gak ada di rumah. Atau berkumpul bersama teman2 di tempat2 yang cukup menarik, di corniche, sand dune...Tapi tentunya kegiatan2 seperti ini, suatu saat akan membosankan juga.....

Kemarin malam, kebetulan saya membaca pojok Aa Gym di Republika. Setelah membaca beberapa artikelnya ada satu yang menyentuh saya, tentang kemampuan diri menikmati keiklasan.

Berusaha menemukan kegiatan yang dapat meloloskan kita dari kejenuhan, rasanya tak salah..Tetapi ternyata, itu harus dibarengi dengan kegiatan menata hati. Ya..menata hati agar hati ini senantiasa iklas untuk mengerjakan apa2 yang memang dapat kita kerjakan. Menata hati agar kita menjadi seseorang yang "bernilai" bukan dari apa yang kita dapatkan, tetapi dari apa yang dapat kita berikan.Insya Allah...

Sunday, February 05, 2006

Ucapan terima kasih untuk seorang anak

Seperti biasa ketika kulihat tempat sampah di dapur sudah penuh, aku menyuruh Zaky untuk membuangnya ke tong di depan rumah. Ya, itu memang tugas yang diberikan kepada Zaky sebagai salah satu kontribusinya dalam membantu pekerjaan di rumah. Pagi itu...

"Zaky, ibu minta tolong buang sampah dong, udah penuh nih", kataku.

"Iya, sebentar!!", jawabnya setengah berteriak.

Tampaknya Zaky sedikit kesal karena keasyikannya bermain game di komputer sedikit terganggu. Setelah dua kali aku menyuruhnya, barulah dia beranjak dari tempat duduknya. Dengan muka sedikit cemberut, dia mencoba mengangkat kantong sampah. Oppp....agak berat memang, tapi akhirnya dia berhasil mengangkat dan memasukkannnya ke tong sampah. Dan ketika dia kembali...

"Thank you", kataku.

Entah karena suaraku kurang jelas terdengar olehnya atau memang dia ingin menegaskan apa yang telah dikatakan oleh ibunya.

"Apa Bu, apa Bu?", tanyanya.

"Thank you, Zaky", kataku sekali lagi.

Tiba2 plok!! Tangannya memukul pantatku, tidak keras memang, mungkin lebih tepat seperti aku merasakan seseorang menepuk pundakku dengan keakraban. Kemudian dengan setengah berlari, dia bergegas duduk kembali di depan komputernya. Ada keriangan di wajahnya, aku dapat merasakannya. Tak ada lagi wajah kesal yang dia perlihatkan sebelumnya.

Ah..kalimat "terima kasih", kalimat pendek yang ternyata cukup "sakti", kalimat yang mampu merubah suasana hati seseorang menjadi lebih baik. Hampir saja aku lupa mengatakannya. Ya, seringkali kami sebagai orang tua lupa mengatakannya. Ketika kami ingin anak2 dapat menghargai kerja keras kami untuk mereka, justru kami sering terlupa menghargai kerja mereka. Bagaimana anak2 akan terbiasa mengucapkan terima kasih kalau kami tidak terbiasa mengucapkan kata itu kepada mereka? Bagaimana mereka akan menghargai kerja kami kalau kami pun tidak dapat menghargai kerja mereka?

Ya, sekecil apapun pekerjaan seorang anak, dia layak mendapatkan penghargaan. Sehingga suatu saat, diapun dapat menghargai pekerjaan orang lain, sekecil apapun juga.


Thursday, February 02, 2006

Silaturahmi dengan teman

Satu pelajaran yang bisa kuambil dari pengajian Umi minggu ini.
Ya keasyikanku menulis, mencoba resep untuk bisa ditampilkan dalam blog, membuat aku akhir2 ini sedikit terlupa dengan teman2. Dengan alasan klise "kehabisian waktu", aku lupa untuk menelefon mereka sekedar menanyakan kabar.

Ya sebenarnya banyak cara untuk tetap menjaga silaturahmi dengan teman2, menelefon, memberikan sedikit makanan kecil, berkunjung ke rumahnya, hmm..apalagi ya?

Umi mengatakan siapa yang memutus hubungan silaturahmi dengan teman, maka Allah akan benar2 memutuskan tali silaturahmi itu. Ih, siapa yang ingin hidup tanpa teman..? Gak, gak mau! Teman dapat memberikan banyak pembelajaran kepada kita, teman membuat hidup kita lebih berwarna. Bahkan teman adalah salah satu ladang amal kita. Jadi keep in touch with your friends, Herti!

Tuesday, January 31, 2006

Rahasia Allah adalah Anugerah

Suatu hari ketika kami baru saja pindah ke Qatar, suamiku pernah berucap," tak pernah disangka ya, kita bisa sampai kesini".

Sejak di sekolah dasar, guru2 agama sudah mengajarkan bahwa takdir, jalan hidup kita adalah suatu ketentuan yang berada dalam genggaman Allah, merupakan rahasia milikNya. Ketika aku mencoba mengurut dari kehidupan awal kami berdua.....

........ya, siapa sangka bahwa aku pada akhirnya menikah dengan seorang laki2 yang bernama Archiaston, seseorang yang tak pernah ada dalam kehidupan pegaulanku sebelumnya, seseorang yang mungkin pada saat itu tidak termasuk kategori yang kuimpikan akan menjadi suamiku. Tetapi sepertinya Allah telah menuntun kami berdua untuk menjadi pasangan hidup, pasangan yang bisa saling melengkapi. Ya, saling melengkapi...ketika aku memiliki kekurangan, aku dapat belajar darinya, begitu juga sebaliknya.

Keberadaan kami yang pada saat itu cukup jauh dari orang tua dan sanak saudara, di Lhokseumawe Aceh, justru membuat kami dapat belajar cepat untuk menjadi mandiri, baik itu dalam hal membina rumah tangga juga membina hubungan baik dengan lingkungan sosial. Apalagi ketika setahun kemudian lahir putri kami yang pertama Asti, kami berdua yang benar2 masih "hijau" harus belajar menjadi orang tua secara ekspres. Tentu saja semua itu adalah atas ijin Nya juga. Bagi aku pribadi, sepertinya ini adalah"award" yang Allah berikan kepadaku, yang membuat aku benar2 merasa bangga. Ya siapa yang tak merasa bangga, ketika seorang herti yang selama puluhan tahun sebelumnya senantiasa dekat dengan orang tua, ibarat pepatah mengatakan "bagai katak dalam tempurung", dan kemudian berubah menjadi herti yang merasa mampu mengelola suatu rumah tangga serta kemudian merawat dan mendidik seorang anak, walaupun semuanya masih "tertatih-tatih". Apalagi yang harus aku katakan selain kuucap syukur kepada Yang Maha Rahman & Rahim atas "award" yang diberikan kepadaku.

Beberapa tahun kemudian, ketika kami bertiga pindah ke tempat baru, Bontang Kalimantan....
Kepindahan yang sebenarnya lebih menurutkan kata hati dan sedikit pertimbangan bahwa kepindahan kami ini akan membawa kami ke arah kehidupan yang lebih baik. Tak pernah kami menyangka sebelumnya, kurang lebih setelah setahun kepindahan kami, Aceh mengalami pergolakan. Alhamdulillah, kami tidak mengalami apa yang telah dialami teman2 yang berada di Lhokseumawe, seperti harus terpisahnya suami dengan istri dan anak karena alasan keamanan atau merasakan ketakutan dengan suara tembakan( seperti perang betulan, temanku pernah bercerita). Kami bersyukur masih senantiasa diberi anugerah untuk merasakan kebersamaan yang kemudian tidak lagi bertiga, tetapi menjadi berempat ketika adik Asti, Zaky hadir diantara kami.
Di tempat ini, sungguh kami merasakan anugerah Allah yang begitu berlimpah, ibarat air di dalam waskom mungkin sudah "luber". Ya itu yang kami rasakan....Allah memberikan kemampuan kepada kami untuk mendidik Asti dan Zaky yang tak terasa sudah semakin besar. Dan ketika mereka sudah dapat "mengurus" diri mereka sendiri, Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk dapat lebih "mengembangkan" diri. Allah mempertemukan kami dengan pak Alimin, seorang ustaz yang mengajarkan anak2 membaca Al Quran, bu Niar dan bu Santi, yang memberikan ilmu bhs inggris, juga Diah, seorang gadis yang baik dan sederhana yang benar2 membantuku dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Terima kasih kepada mereka, sehingga aku memiliki keluangan waktu untuk mengikuti bermacam aktifitas yang sebelumnya belum sempat kulakukan: memperdalam agama, belajar cooking dan baking, kursus vocal (sayang rasanya suaraku sampai sekarang kok masih sember ya..), mengikuti berbagai seminar, kursus dan lomba yang secara resmi diadakan perusahaan...rasanya tak ada hari tanpa kegiatan. Tanpa terasa kegiatan2 itu membawaku ke pergaulan yang lebih luas, memperkenalkanku dengan lebih banyak teman. Teman yang memiliki keunikannya masing2, teman yang tak terasa memberikan begitu banyak pembelajaran sehingga tanpa disadari aku belajar ilmu psikolog secara otodidak. Sedikit benturan pernah aku rasakan, tapi justru semakin memperkaya batinku.

Masih teringat dalam ingatan ketika suatu hari, Asti mengemukakan keinginannya untuk dapat sekolah di luar negri. Pada saat itu, kami sebagai orang tua hanya dapat memberinya semangat," Ya doakan bapak diberi rezeki yang cukup agar bisa menyekolahkan Asti ke sekolah yang Asti inginkan" atau "Semua tergantung Asti, kalau Asti bekerja keras insya Allah akan ada jalan untuk itu". Hanya itu jawaban kami...Sungguh kami tak menyangka, bahkan memimpikannya pun rasanya tak pernah bahwa suatu saat Allah memberikan kesempatan kepada kami untuk tinggal di luar Indonesia.

Ya, kini kami tinggal di Qatar...
Begitu lelah, jenuh..sempat kurasakan ketika awal kami tinggal di tempat baru ini. Aku yang sebelumnya terbiasa dengan bantuan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, kini harus bekerja sendiri. Aku yang terbiasa dengan schedule kegiatan di luar rumah, kini justru harus banyak di rumah. Bukan tak ada kegiatan disini, sebenarnya cukup banyak, kita bisa mengikuti english atau french class, kegiatan olah raga seperti line dancing, yoga, aerobic, atau mungkin art seperti panting, dancing, gardening juga ada...Kuingin mengikuti segala macam kegiatan (syukur kepada Allah yang masih memberikan kepadaku rasa ketertarikan untuk terus belajar), namun rasa2nya ada yang lebih utama yaitu anak2...Asti dan Zaky. Asti sudah mulai berangkat remaja, aku ingin semakin dekat dengannya, Zaky yang sedang berada dalam periode "proses menuju awal keremajaan", periode yang ditandai dengan keinginan untuk sedikit memberontak untuk menunjukkan eksistensinya, aku ingin bersamanya untuk melewati periode ini. Ya, mungkin inilah saatnya untuk aku bisa lebih dekat dengan mereka berdua, saat dimana waktu masih tinggal di Indonesia lebih banyak kugunakan untuk "mengembangkan" diriku sendiri.
Untuk suamiku, inilah saatnya aku bisa lebih "meladeni"nya, menyiapkan kopinya ketika dia ingin minum kopi, menyiapkan makannya ketika dia ingin dibuatkan sekedar telor mata sapi dengan indomie kuah, ya..pekerjaan yang sebelumnya kadang kulimpahkan kepada Diah ketika aku merasa sedikit lelah dengan kegiatan.
Ada hal lain yang sekarang sedang kutekuni selain mengikuti pengajian bersama Umi, yaitu menulis.....Ya dengan menulis aku dapat lebih merasakan nikmatMu, nikmat yang harus kusikapi dengan rasa syukur yang begitu mendalam.

Ketika kembali kubaca dari awal.......
Ah...betapa berwarnanya hidupku, bagai pelangi
Bahkan kurasakan lebih indah dari pelangi itu sendiri
Alhamdulillah...Alhamdulillah...Alhamdulillah

Friday, January 27, 2006

Ketika tidak sempat bermanja..

Ini bukan cerita ttg bermanja dgn suami, atau sejenisnya. Ini ttg suatu proses yang sedang kucoba untuk menikmatinya.

Tadi pagi, ntah kenapa sehabis mandi pagi aku merasa something wrong with me. Tiba2 aja aku merasa pusing, mulut pahit, mules sampai bolak balik ke kamar mandi. Heh, ada apa ini..? Ah..kayaknya masuk angin nih, kusempatkan tiduran sebentar. Tapi tidak bisa! Terbayang rumah masih berantakan, sebentar lagi harus mengantar anak2 ke pengajian, masak buat makan siang dan seterusnya, dan seterusnya. Ditambah lagi, suamiku orang yang paling setia membantuku di rumah, lagi gak ada. Akhirnya sambil mengsugesti diri, pelan2 kukerjakan satu persatu pekerjaan.

Kusiapkan breakfast...kata anak2," enak bu nasi gorengnya". Hmm..rasanya pusingku jadi sedikit berkurang. Kemudian kumasukkan cucian yang sudah bertumpuk ke mesin cuci. Gosoknya gak usah dipikirin dulu deh biar gak tambah pusing. Nganter Asti ke pengajian...Balik ke rumah, beberes....Jemput Asti, balik ke rumah ngerapihin dapur yang masih berantakan. Giliran nganterin Zaky ke pengajian, trus nyiapin buat makan siang, seadanya...(untung anak2 mengerti..). Jemput Zaky sekalian nganter ke mesjid buat sembahyang jumat. Ngelanjutin nyuci2 bekas masak, trus jemput Zaky dari mesjid. Akhirnya...Alhamdulillah selesai juga, bisa makan bareng dengan anak2. Puas? Tentu saja, ternyata aku bisa menaklukkan situasi, bisa mengerjakan semua pekerjaan.

Sungguh berbeda situasinya ketika kami masih berada di Indonesia. Sakit sedikit, langsung tiduran, semua pekerjaan diserahkan ke pembantu. Makan tinggal beli jadi, mau bakso, makanan padang, makanan jawa...Kayaknya nyaman...betul! Bener2 bisa bermanja2, berleha2..Puas? Oh..pasti, kayaknya semua no problem!

Dua situasi yang berbeda, dengan kepuasan yang berbeda. Namun keduanya bisa kunikmati...Ternyata bukan situasi yang menentukan, tapi justru kita sendiri. Bahkan seringkali, situasi yang kelihatannya tidak enak justru lebih banyak memberikan pembelajaran kepada kita.

Wednesday, January 25, 2006

Renungan

Alhamdulillah banget, akhirnya tadi pagi bisa pergi ke pengajian umi. Padahal sebelumnya, ntah kenapa kalau ikut kegiatan yang kayak begini banyak malasnya, banyak godaannya, banyak alasan untuk tidak hadir! Tadi pagi aja sebenarnya udah gak niat pergi, kupikir...ah minggu depan aja deh mulainya. Iseng2 kutelfon teh Titi, buat ngajakin pergi. Biasanya khan kalau ada teman jadi lebih semangat. Teh Titi yang sebelumnya kelihatan malas, akhirnya bilang," ok ok tolong jemput ya.." Iyalah teh Titi, pasti kujemput, aku dah tahu kalau mobilnya lagi di bengkel akibat nyium tiang listrik!

Kenapa harus kuucap syukur Alhamdulillah? Karena pengajian tadi pagi telah menumbuhkan semangatku untuk kembali belajar tentang agamaku, sebaliknya bikin aku sedih juga karena tersadar betapa ilmuku ttg agamaku sangat sangat sedikit, rasanya sudah jauh ketinggalan kereta padahal tanpa disadari usia sudah semakin merambat. Sudah kepala 4 oy!

Memang seringkali, keasyikan dengan segala kegiatan rutin membuat kita sedikit terlena. Tanpa disadari, waktu terus berjalan dan kita "stuck", tidak terpikir untuk mengevaluasi diri, tidak terpikir untuk mencoba menaiki tangga sedikit lebih tinggi.

Banyak yang harus kubenahi untuk menjadi seorang "herti" yang lebih baik dari sekarang. Herti sebagai istri, ibu, teman, anak, kakak..(ternyata banyak juga gelar yang kusandang...), yang sudah pasti sebagai hamba yang telah diciptakan olehNya.

Tapi tentu saja segala sesuatunya tidak semudah kata2, butuh keinginan kuat dari dalam diri. Ah...jadi teringat ketika anakku berusaha keras menaiki sebuah bukit, jatuh..bangun...berusaha, dan berusaha akhirnya insya Allah sampai juga. Ya mungkin seperti itulah prosesnya.....